Disambut Jamu Tradisional, Mahasiswa Asing UMS Jalani Imersi Bahasa dan Budaya di Bayat

Klaten — Lembaga Pengembangan Mata Kuliah dan Layanan Bahasa (LPMB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyerahkan 10 mahasiswa asing kepada K3SM Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, untuk mengikuti Program Imersi Bahasa dan Budaya Indonesia selama tiga hari, 12–14 Januari 2026.

Prosesi penyerahan diawali dengan penyambutan khas Jawa berupa welcome drink jamu tradisional, yakni kunir asem dan beras kencur, yang disuguhkan kepada para mahasiswa asing. Penyambutan ini menjadi simbol pengenalan budaya lokal sekaligus bagian dari pembelajaran kontekstual sejak hari pertama kegiatan.

Mahasiswa asing peserta program berasal dari berbagai negara, seperti Uganda, Nigeria, Bangladesh, Kenya, Fiji, Sierra Leone, Timor Leste, dan Papua Nugini. Program imersi ini merupakan kegiatan rutin hasil kerja sama antara LPMB UMS dan K3SM Kecamatan Bayat dalam rangka meningkatkan pengalaman belajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) berbasis praktik langsung di masyarakat.

Setelah prosesi penyerahan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi pengenalan kerajinan gerabah khas Bayat, yang menjadi salah satu identitas budaya dan ekonomi kreatif daerah tersebut. Para mahasiswa kemudian mengikuti praktik langsung pembuatan kerajinan gerabah di tempat usaha milik warga setempat, sehingga mereka tidak hanya mengenal kosakata baru, tetapi juga memahami proses budaya dan sosial di baliknya.

Ketua LPMB UMS, Dr. Aryati Prasetyarini, M.Pd. menyampaikan bahwa program imersi ini dirancang untuk memperkuat kemampuan berbahasa Indonesia mahasiswa asing melalui interaksi autentik.

“Melalui imersi, mahasiswa tidak hanya belajar bahasa di ruang kelas, tetapi juga mempraktikkannya langsung dalam kehidupan sehari-hari bersama masyarakat. Ini sangat efektif untuk meningkatkan keberanian, kelancaran, dan pemahaman budaya,” ujarnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, mahasiswa asing akan berinteraksi secara intensif dengan masyarakat Desa Bayat, siswa di sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kecamatan Bayat, serta pengurus Muhammadiyah setempat. Berbagai aktivitas komunikasi, edukasi, dan kebudayaan dirancang untuk mendorong penggunaan Bahasa Indonesia secara aktif dan natural.

Perwakilan K3SM Kecamatan Bayat, Bapak Wahyana menilai program ini memberi manfaat ganda.

“Selain membantu mahasiswa asing belajar Bahasa Indonesia, kegiatan ini juga mempererat hubungan budaya dan membuka ruang pertukaran pengalaman antara masyarakat lokal dan warga internasional,” katanya.

Ke depan, LPMB UMS berkomitmen untuk melanjutkan dan mengembangkan program imersi bahasa dan budaya ini sebagai bagian dari penguatan program BIPA berbasis komunitas. Pengembangan direncanakan melalui perluasan jejaring mitra, penambahan ragam kegiatan budaya, serta integrasi dengan program pengabdian kepada masyarakat yang berkelanjutan.

Berita Lainnya