LPMB UMS Tingkatkan Mutu Layanan Bahasa dan BIPA melalui Benchmarking di Yogyakarta

YOGYAKARTA – Lembaga Pengembangan Mata Kuliah dan Layanan Bahasa (LPMB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat kualitas layanan bahasa dan pengembangan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) melalui kegiatan benchmarking ke Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma (USD) dan Indonesia Language and Culture Learning Service (INCULS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (17/7). Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi LPMB UMS dalam menyerap praktik-praktik terbaik (best practices) guna menghadirkan layanan bahasa yang semakin adaptif, inovatif, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Benchmarking diawali dengan kunjungan ke Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma. Dalam sesi diskusi, tim LPMB UMS menggali berbagai pengalaman mengenai tata kelola lembaga bahasa, pengembangan program kursus bahasa, layanan tes bahasa, sistem rekrutmen pengajar, pengelolaan Program BIPA, hingga strategi membangun jejaring kerja sama dengan berbagai mitra. Berbagai pengalaman tersebut menjadi referensi penting dalam penguatan layanan bahasa yang dikelola LPMB UMS.

Pada siang harinya, rombongan melanjutkan benchmarking ke Indonesia Language and Culture Learning Service (INCULS) Universitas Gadjah Mada. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya yang berfokus pada tata kelola kelembagaan, diskusi di INCULS lebih diarahkan pada pengembangan Program BIPA, meliputi struktur kurikulum, penyusunan bahan ajar, integrasi budaya dalam pembelajaran, hingga pengembangan kompetensi pengajar BIPA. Melalui pertukaran pengalaman tersebut, LPMB UMS memperoleh berbagai perspektif baru dalam mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing yang lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan pembelajar internasional.

 

Ketua LPMB UMS, Dr. Aryati Prasetyarini, M.Pd., menyampaikan bahwa benchmarking merupakan salah satu langkah strategis untuk memastikan layanan bahasa di UMS terus berkembang mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat dan dunia pendidikan.

“Kami meyakini bahwa peningkatan mutu tidak dapat dilakukan secara sendiri. Melalui benchmarking ini, LPMB UMS memperoleh banyak praktik baik dan perspektif baru mengenai pengelolaan layanan bahasa maupun pengembangan Program BIPA. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam menyempurnakan layanan yang kami berikan kepada sivitas akademika, masyarakat, dan pemelajar internasional,” ujarnya.

Menurut Aryati, penguatan layanan bahasa tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan kursus maupun tes kemampuan bahasa, tetapi juga menyangkut pengembangan ekosistem pembelajaran yang mampu mendukung internasionalisasi perguruan tinggi. Oleh karena itu, kolaborasi dan pembelajaran dari institusi yang telah memiliki pengalaman panjang menjadi bagian penting dalam proses peningkatan mutu secara berkelanjutan.

Kegiatan benchmarking juga menjadi ruang untuk mempererat jejaring antarlembaga bahasa perguruan tinggi. Melalui forum diskusi yang berlangsung interaktif, masing-masing institusi saling berbagi pengalaman mengenai tantangan, inovasi, serta strategi pengembangan layanan bahasa di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kompetensi kebahasaan dan program internasional.

Bagi LPMB UMS, hasil benchmarking ini akan menjadi bahan evaluasi sekaligus referensi dalam menyusun berbagai program pengembangan ke depan, baik pada aspek layanan bahasa, pengelolaan Program BIPA, pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi pengajar, maupun perluasan jejaring kerja sama. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat peran LPMB UMS sebagai pusat pengembangan mata kuliah umum dan layanan bahasa yang unggul, adaptif, serta mampu mendukung visi internasionalisasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Berita Lainnya