
Surakarta, 7 November 2025 — Enam mahasiswa asing dari Bangladesh, Nigeria, Sierra Leone, Uganda, dan Thailand bersama dua mahasiswa internasional lainnya yang tengah mengikuti program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjalani pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya. Usai mengikuti progress test pada akhir Oktober lalu, mereka terjun langsung ke tengah kehidupan masyarakat lewat kegiatan bertema “Berburu Rasa di Pasar Tradisional” dan “Dapur Nusantara: Dari Kata ke Rasa” pada 4-5 November 2025.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program jeda belajar yang dirancang untuk memberikan pengalaman komunikatif dan kontekstual bagi para peserta BIPA setelah menyelesaikan evaluasi pembelajaran mereka.
Pada hari pertama, peserta BIPA diajak mengunjungi Pasar Gede, salah satu pasar tradisional tertua dan paling populer di Kota Solo. Mereka menggunakan Bus Solo Trans (BST) sebagai sarana transportasi umum untuk menuju lokasi. Melalui perjalanan ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang sistem transportasi kota, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat Solo — mulai dari sopir, penumpang, hingga pedagang.
“Naik BST itu menyenangkan. Saya belajar kata-kata baru,” ujar Sajedul Hossain Nahin, mahasiswa asal Bangladesh, sambil tersenyum.
Setibanya di pasar, para peserta berlatih bertransaksi menggunakan bahasa Indonesia saat membeli bahan-bahan makanan seperti sayur, bumbu dapur, dan santan untuk membuat gado-gado dan es dawet. Aktivitas ini menjadi sarana nyata bagi mereka untuk mengasah kemampuan berbahasa sekaligus mengenal kekayaan kuliner dan budaya Indonesia.

Memasuki hari kedua dengan tema “Dapur Nusantara: Dari Kata ke Rasa”, bahan-bahan yang telah dibeli menjadi media pembelajaran praktis. Para mahasiswa bersama para pengajar BIPA mengolah bahan tersebut menjadi sajian khas Indonesia. Aktivitas memasak bersama ini tidak hanya menumbuhkan keterampilan berbahasa, tetapi juga mempererat kebersamaan lintas budaya.
“Belajar bahasa Indonesia lewat masak dan makan bersama membuat suasana lebih hidup dan menyenangkan,” ungkap Dr. Aryati Prasetyarini, M.Hum., Kepala Lembaga Pengembangan Mata Kulian dan Pelayanan Bahasa UMS.
Di hari kedua ini, seluruh peserta menyajikan makanan dan minuman hasil olahan mereka untuk dinikmati bersama. Suasana penuh keakraban dan tawa menutup rangkaian kegiatan jeda belajar di hari itu.
Koordinator Program BIPA UMS, Dini Restiyanti Pratiwi, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penerapan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). “Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar bahasa di kelas, tetapi juga merasakannya dalam kehidupan nyata. Dengan begitu, bahasa menjadi hidup dan bermakna bagi mereka,” ujarnya.
Melalui kegiatan “Berburu Rasa di Pasar Tradisional” dan “Dapur Nusantara: Dari Kata ke Rasa”, mahasiswa BIPA UMS tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh kehangatan dan gotong royong.
